Bagaimana Cara Mengatasi Depresi Menurut Al-Quran. Belajar dari Kisah Maryam

Kisah Kemuliaan Siti Maryam yang Hamil Tanpa Menikah | islamudina.com

Dalam perjuangannya Maryam ketika melahirkan sang bayi sendirian, dalam kesakitan Maryam sempat mengeluh mengucapkan seperti yang tertulis dalam surat Maryam 22-23 “Dan kisahkanlah di dalam kitab (Al-Quran) tentang Maryam, ketika menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Rasa sakit hendak melahirkan membawanya bersandar pada pohon kurma. Ia berkata: Oh alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tak berarti dan dilupakan.”

Bisa dibayangkan begitu beratnya penderitaan dan kesedihan yang dialami Maryam.

Melahirkan seorang putra berstatus tanpa bapak bukanlah perkara mudah. Padahal Maryam dikenal perempuan suci yang salihah pada zamannya.

Kisah serupa juga berlaku dalam kehidupan zaman sekarang, manakala setiap orang bisa saja dihadapkan pada masalah-masalah dalam kehidupan. Baik itu masalah keluarga, ekonomi, tetangga maupun di lingkungan kerja.

Hidup ini ada masanya berada diatas, adakalanya berada di titik terendah. Ketika masalah menimpa tak pernah kelar rasa sedih yang berkepanjangan,tentu saja  berpengaruh terhadap mental kita.

Jika tidak kuat bisa berujung depresi. Bahka sempat terpikir dalam hati “rasanya ingin mati”

Ketika seseorang mengalami stress atau depresi sering dianggap orang tersebut kurang iman. Padahal tidak bisa disimpulkan seperti itu juga.

Setiap orang punya tingkat kekuatan masing-masing dalam menanggung stress. Ada orang yang rentan terhadap masalah dan gampang stress,   ada yang mampu menata emosinya dan cenderung lebih kuat.

Sebenarnya bukan masalah kuat atau lemah imannya seseorang tapi terletak pada kerapuhan dan sisi mental seseorang.

Saya tidak setuju jika seseorang itu gampang stress dan depresi disebabkan karena kurangnya iman.

Tapi saya belajar dari perempuan-perempuan mulya pada masa nabi dahulu yang tidak lepas dari rasa sedih dan penderitaan.

Ada bebberapa perempuan tegar yang pada masa nabi yang tidak pernah lepas dari cobaan dan penderitaan yang dikisahkan dalam Al-Qura. Tapi saya lebih tergugah dengan kisah Maryam.

Siapa yang tidak kenal dengan nama Maryam, perempuan suci yang namanya diabadikan sebagai  salah satu surat dalam Al-quran.

Kisah keimanan dan perjuangan hidupnya tertuang khusus dalam satu surat Al quran yaitu Surat Maryam.

Maryam adalah perempuan suci yang sudah teruji kesalihannya. Putri Imran yang seluruh hidupnya semata dihabiskan untuk beribadah di baitul maqdis.

Setiap orang mengenalnya sebagai perempuan salihah, tapi Siapa sangka tiba-tiba beliau mengandung anak tanpa bapak bisa dibayangkan bagaimana beratnya beban yang harus ditanggung oleh Maryam. Siapa yang mau percaya seorang Maryam adalah perempuan suci seutuhnya.

Tapi Allah mengabadikan khusus kisah beliau dalam Al-Quran surat Maryam. Sebuah pembelajaran bagi kita bagaimana beratnya beban mental yang dialami oleh perempuan yang beriman.

Sekilas kita mencerna kalimat yang diucapkan Maryam pada saat itu terkesan seorang rapuh dan putus asa.

Apalagi beliau dikenal perempuan salih dan ahli syurga, bagaimana ceritanya perempuan jaman sekarang bisa dibayangkan betapa rapuhnya kondisi mental mereka.

Tidak jarang yang mencibir pada saat seseorang khususnya kaum perempuan mengeluh, beranggapan bahwa seseorang itu tidak ada iman.

Setegar-tegarnya Maryam, setinggi manapun imannya Maryam tapi tetaplah perempuan biasa. Hatinya bisa hancur ketika mendengar cibiran dan cemoohan orang.

Tapi perempuan seperti Maryam sampai terucap keluh kesahnya, seraya berharap kematian untuknya akibat omongan orang,  konon lagi kita….

Butuh waktu bagi seseorang untuk mengelola emosi jiwa dan buncahan rasa. Ada proses yang harus dilewati bukan menghakimi seseorang dengan mengatakan kurang iman.

Saya tidak bisa menyimpulkan seseorang depresi itu karena kurang iman, tapi seseorang butuh waktu untuk mencerna sebuah kenyataan dan menata kembali emosi jiwanya tidak bisa dalam sekejap  orang bisa tegar kembali.

Lalu bagaimana cara kita mengatasi rasa sedih dan depresi yang kita alami? Kembali berkaca pada kisah Maryam, setelah curhatan kesedihan keluh kesahnya kepada Allah, Allah merespon dengan sangat bijak tidak semata dengan cara menghardik bahawa “Maryam kamu tidak punya iman”

Allah maha tahu apa yang dibutuhkan Maryam. Justru dalam titik terendah tersebut Allah mengutus malaikat Jibril sebagai konselor.

Dalam Al-Quran surat Maryam ayat 24-26 “kemudian Jibril menyerunya dari tempat yang rendah. “janganlah kamu bersedih sesungguhnya telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyang-goyangkanlah pelepah kurma itu ke arahmu niscaya akan gugur buah-buah kurma yang telah masak itu kepadamu. Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu. Jika kamu melihat seseorang maka katakanlah” sesungguhnya aku telah bernazar kepada yang maha pengasih untuk berpuasa, maka aku tidak takkan berbicara kepada seseorangpun pada hari ini.”

Allah mengutus konselor berupa malaikat untuk menghibur Maryam menghilangkan kesedihannya memberi kekuatan serta meminta Maryam tetap makan dan minum serta memberi pengharapan. Tentu saja cara yang tepat untuk mengatasi kesedihan.

Untuk menata hati kembali Allah memberi ruang untuk menenangkan hati dari pertempuran batinnnya. Maryam diperintahkan untuk berpuasa atau menahan diri dari suara sumbang negatif dari kaumnya.

Jadi ungkapan kesedihan merasa tidak berdaya dan tak ada harapan bukanlah pertanda seseorang itu tidak memiliki iman. Melainkan sifat manusiawi yang memiliki keterbatasan dalam mengelola emosi.

Dari kisah tersebut bisa disimpulkan ketika seseorang berada pada titik terendah, janganlah nyinyir ataupun berkomentar negatif. Berikan semangat dan dengarkan keluh kesahnya. Itulah alasan seseorang butuh teman curhat atau konselor.

Ajaklah orang itu duduk nyaman, fokus terhadap kekuatan yang masih dimilkinya bawakan makanan dan minuman. Senangkanlah hatinya baru bantu ia menata emosinya kembali.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *