Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus dan Memahami Karakteristiknya

Hasil gambar untuk anak berkebutuhan khusus

Di lingkungan kita sering  dijumpai anak yang tidak normal dibandingkan anak pada umumnya. Terkadang orang sering mengartikannya sebagai anak terbelakang baik secara pisik maupun mental.  Bahkan sering meamanggilnya dengan sebutan idiot.

Jika kita perhatikan lebih dekat, anak yang tidak normal (disabilitas)   tidak semuanya lambat atau keterbelakangan mental. Justru mereka memiliki bakat dan potensi yang lebih dibandingkan anak normal pada umumnya.

Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing tidak bisa di generalkan  kemampuannya.   Perlu adanya perhatian khusus untuk  menggali potensi yang dimiliki makanya dikatakan Anak Berkebutuhan Khusus.

DEFINISI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Anak Berkebutuhan khusus atau lebih sering dikenal dengan ABK adalah anak yang memiliki karakteristik khusus yang berbeda dari anak normal lainnya.

Anak ABK tidak hanya identik dengan ketidak mampuan atau keterbatan secara mental, emosi,  phisik, intelektual, sosial dan keterbatasan lainnya.

Anak yang memiliki kemampuan lebih atau luarbiasa baik secara phisik maupun mental serta intelektual dikatagorikan sebagai anak berkebutuhan khusus. Bahkan,mereka dianggap spesial atau istimewa dengan potensi yang dimilikinya.

Setiap Anak ABK mempunyai ciri dan kemampuan yang berbeda-beda. karena itulah mereka mempunyai kebutuhan yang berbeda dan perlunya penanganan khusus sesuai kebutuhannya.

Untuk itu diperlukan dukungan keluarga, dokter atau psikolog dan lingkungan dengan  cara melibatkannya dalam lingkungan normal, memberi kesempatan belajar yang sama seperti anak pada umumnya.

Baca juga artikel terkait5 Keunikan Anak Dan Bagaimana Cara Menyikapinya.

CIRI DAN JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS.

Jika ditinjau dari bentuk phisik, mental, intelektual, dan prilaku  sosial anak berkebutuhan khusus dikatagorikan beberapa macam .

Adapun anak berkebutuhan khusus yang sering kita jumpai dalam lingkungan kita adalah:

1. Tuna Grahita

Gambar terkait

Tuna grahita lebih dikenal dengan keterbelakangan mental. Dimana suatu kondisi anak memiliki kemampuan intelektual dibawah rata-rata.

Umumnya kesulitan dalam fungsi intelektual misalnya sulit berkomunikasi, sulit dalam hal belajar dan susah untuk mandiri. Mungkin untuk kondisi ringan masih bisa mandiri untuk kebutuhan sendiri.

Tuna grahita bisa ditandai dengan kondisi seperti: duduk merangkak, berjalan lambat dibandingkan anak seusianya. Umumnya kesulitan dalam  hal bicara , gangguan sosial, sulit mengendalikan sikap dan sulit berpikir logis.

2. Down Syndrom (DS)

Hasil gambar untuk down syndrome

Down syndrom lebih dikenal dengan kembar sedunia atau sering disebut si muka sama. Ciri identiknya secara pisik bisa ditandai dengan dengan wajah atipikal.

Badan relatif pendek, kepala mengecil, muka datar , mata sipit , tangan  terlihat pendek ruas antar jari melebar. Muka bulat dan  datar menyerupai orang mongoloid.

Down syndrom umumnya memiliki kecerdasan dibawah normal, mengalami keterlambatan dalam hal berbicara, gangguan pendengaran dan variabel, sering kejang, lemah sendi dan postur badan terlihat pendek.

3. Cerebral Palsy (CP)

Hasil gambar untuk cerebral palsy

Cerebral palsy atau lumpuh otak, dimana penderita mengalami gangguan otot dan saraf. Cerbral palsy ada yang tergolong ringan, sedang dan berat.

Jika ringan mampu menjalani hidup secara normal dan mandiri serta memilki kecerdasan hanya cacat phisik saja.

Anak Cerebral palsy ditandai dengan kekakuan otot, kaku, terutama tangan kaki dan punggung, mata terlihat juling, bermasalah dengan keseimbangan dan koordinasi, sulit untuk duduk dan berjalan tegak.

Kadang anak Cerebral Palsy memiliki masalah dalam belajar, mendengar, melihat atau keterbelakangan mental.

4. Retardasi Mental (RM)

Gambar terkait

Retardasi mental adalah ketidakmampuan dalam hal fungsi intelektual  dimana intelegensi umumnya dibawah rata-rata dan rendahnya kemampuan menyesuaikan diri (prilaku adaktif)

Berat Tidaknya RM  ditandai berdasarkan kemampuan intelektual dan kemampuan menyesuaikan diri serta dapat mengurus diri.

  • RM ringan memiliki fungsi intelektual antara 50-70 Umumnya lambat dalam hal belajar dan susah menyesuaikan diri dan mengurus diri
  • RM sedang memiliki kemampuan intelektual berkisar 35-49 biasanya rendah dalam hal menyesuaikan diri terutama dalam Bahasa. Tapi masih mampu mengurus diri
  • RM berat memiliki kemampuan intelektual 20-34 kemampuan menyesuaikan diri sangat minim dan sulit berkomunikasi hampir tidak bisa memberi respon.
  • RM sangat berat dimana kemampuan intelektualnya dibawah 20 biasanya memerlukan pengawasan ketat.

 5. Autis

Hasil gambar untuk autis

Autis merupakan kelainan perkembangan morfoligis dan sistem saraf dimana perkembangan yang dimulai sejak kanak-kanak sampai dewasa atau seumur hidup.

Anak autis bisa ditandai dengan kepribadian tenang/pasif, tidak suka dipeluk kecuali dia mau dipeluk, tidak bisa fokus, cenderung pada suatu objek.

Suka dengan benda yang berputar, cuek saat diajak ngobrol, kurang respon terhadap lingkungan sulit beradaptasi dengan rutinitas dan susah mengekpresikan diri.

Anak autis kesulitan dalam memahami pikiran dan perasaan orang lain. Faktor inilah yang membuat mereka susah mengekpresikan diri baik dengan kata-kata, gerak dan ekspresi wajah.

Anak autis tidak bermasalah dengan intelegensi, umumnya kapasitas intelektual mereka tinggi bahkan berada dia atas normal(jenius) mereka hanya bermasalah dengan emosi dan prilaku.

6. Disleksia

Hasil gambar untuk disleksia

Disleksia adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis dan mengeja.

Anak disleksia susah berkomunikasi karena sulit mengenal kata-kata yang diucapkan baik dalam bentuk kata maupun kalimat.

Disleksia tergolong saraf terutama dalam memproses Bahasa. Disleksia hanya mengalami kesulitan belajar tapi tidak mempengaruhi kecerdasannya.

Disleksia ditandai dengankesulitan membaca dan mengeja. Mereka susah memahami apa yang didengar, menggunakan kata yang tepat untuk menjawab dan sulit mengucapkan kata umum, bahasa asing  susah mengeja, membaca, menulis dan berhitung.

 7. Slow Learner

Hasil gambar untuk slow learner

Slow learner adalah kasus yang paling banyak dijumpai dalam dunia pendidikan. Anak slow learner ditandai dengan keterlambatan dalam belajar.

Potensi intelektualnya tergolong sangat rendah dibandingkan anak normal lainnya hanya berkisar 80-85. Anak slow learner umumnya mengalami keterlambatan dalam hal  berpikir  merespon dan beradaptasi. Tapi masih lebih baik dibandingkan retardasi mental dan tuna grahita.

Slow learner ditandai dengan kemampuan belajar rendah dibawah 6 lambat dalam menyelesaikan tugas akademik dibandingkan teman-temannya, daya tangkapnya lemah dan lamban dalam pembelajaran.

8. Multi Selektif.

Gambar terkait

Multi selektif dimana anak sulit berinteraksi dengan lingkungan sosial. Anak hanya mau berkomunikasi dengan orang yang dikenal dan orang membuatnya nyaman.

Perbedaan terlihat kontras, Saat mereka berbicara dengan orang tua atau orang terdekat. Jika bertemu dengan orang asing akan terdiam dan tidak mau berbicara sama sekali.

Anak multi selektif butuh waktu lama untuk beradaptasi dan memulai komunikasi dengan orang yang baru dikenal.

 9. Gangguan emosinal

Gambar terkait

Gangguan Emosional adalah dimana anak mengalami gangguan emosi dan prilaku. Anak cenderung tidak stabil bisa menggangu jika berada pada lingkungan social.

Biasanya anak gangguan emosional tidak mampu belajar, susah dalam pertemanan, perasaan yang tidak stabil dan mood mudah terganggu.

Anak yang mempunyai gangguan emosional umumnya susah bersosialisasi dan sulit diterima oleh lingkungannya karena mempunyai prilaku menggangu.

10. Tuna wicara

Gambar terkait

Dimana anak tidak memiliki kemampuan berbicara atau mengkomunikasikan gagasannya kepada orang lain atau lawan bicaranya.

Hal ini disebabkan karena kerusakan otak, celah langit-langit, bibir sumbing dan gangguan pendengaran(tuna rungu).

Penderita tuna wicara mengalami gangguan verbal berupa kerusakan alat bicara, dan artikulasi bicara dan kelambatan. Biasanya disebabkan faktor genetik, keracunan makanan, dan penyakit tetanus yang menyerang saat bayi.

Demikianlah 10 Tipe anak Berkebutuhan Khusus yang  umumnya sering jumpai dilingkungan kita, masih ada jenis anak berkebutuhan khusus lainnya seperti cacat fisik, hidrocepallus, miccrocepallus, andrecepallus dan sebagainya.

Baca juga Bahaya Televisi Untuk Perkembangan Anak

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *